Seperti Indonesia, Jepang  merupakan wilayah yang rawan gempa bumi. Di wilayahnya terdapat banyak patahan perut bumi,juga gunung- gunung api yang masih aktif. Itu secara ilmu pengetahuan. Namun, soal gempa, masyarakat Jepang punya legenda sendiri.

Menurut legenda mereka, gempa disebabkan gerakan belut raksasa di perut bumi. Belut tersebut buta, sehingga menabrak apa saja yang dilewatinya. Tabrakan itulah yang menimbulkan gempa.

Legenda dimulai di sebuah desa yang tenang dan damai. Di desa itu tinggal seorang pemuda baik hati bernama Utaro. Suatu hari, saat hendak pergi bekerja Utaro berjumpa sekumpulan anak yang sedang bermain di tepi sawah. Beberapa dari mereka terlihat sedang memukul-mukulkan tongkat kayu ke tanah.

“Sedang apa mereka?” Tanya Utaro dalam hati.

Ternyata anak-anak itu sedang berusaha menangkap seekor belut. Belut itu tak kuasa menghindari pukulan tongkat anak-anak. Merasa kasihan? Utaro lalu mencegah.

“Jangan ganggu belut itu. Kasihan, kan. Ayo, sana pergi cari permainan lain. Jangan menyakiti hewan!” Larang Utaro.

Anak-anak pun pergi. Belut yang malang itu pun segera menjauh menuju persawahan. Kemudian Utaro yang baik hati itu melanjutkan kembali perjalanannya.

Seharian bekerja membuat tubuh Utaro lelah sekali. Hari belum begitu malam, tapi matanya terasa sudah berat sekali. Namun, saat baru saja mata hendak terpejam, terdengar suara ketukan di pintu rumahnya.

Tok…tok….tok…

“Tumben, siapa malam-malam begini bertamu?” Pikirnya.

Ketika pintu dibuka, Utaro baik hati terperanjat bukan main. Ternyata seorang gadis cantik yang mengetuk rumahnya.

“Tolong…Aku tersesat dan kemalaman di jalan. Ijinkan aku bermalam di sini Tuan,”mohon gadis tersebut.

“Eh..o..e..e..si..silakan masuk!” Sahut Utaro gugup.

Malam itu Utaro harus rela tidur di teras rumah, supaya si gadis jelita bisa berisitirahat tenang di dalam. Esoknya, pagi-pagi sekali, gadis itu sudah bangun.

“Maaf, sebenarnya aku hidup sebatang kara. Orang tuaku sudah lama tiada dan aku juga tidak punya lagi rumah untuk berteduh,” kata si gadis jelita. “Maaf aku semalam berkata tidak jujur.”

“Lalu aku harus bagaimana?” Tanya Utaro bingung.

“Tolong nikahi aku,Tuan. Aku tidak tahu lagi kemana harus pulang?” Mohon si gadis jelita.”Aku berjanji akan menjadi istri yang setia dan bekerja keras setiap hari untuk membantumu.”

Utaro merasa iba. Lagipula, kebetulan dirinya memang belum mendapat jodoh. Sekarang, di hadapannya ada seorang gadis cantik yang siap menjadi istrinya. Akhirnya mereka pun menikah, hidup bahagia, dan dikaruniai seorang anak.

ada suatu hari, tidak seperti biasanya, Utaro pulang lebih cepat dari tempatnya bekerja. Sampai di rumah ia mendapati keadaan sangat sepi. Pintu rumah pun terkunci rapat. Penasaran, ia mencoba mengintip dari celah jendela.

“Ya,Tuhan!” Teriaknya kaget.

Utaro melihat seekor hewan mirip belut sedang melingkar di lantai kamar. Di tengah-tengah lingkaran tubuh belut itu terbaring anaknya yang masih bayi. Anehnya, anaknya itu tidak merasa takut sama sekali. Malah terlihat seperti sedang bercanda.

“Mungkinkah istriku itu jelmaan belut?”

Utaro bingung dan ketakutan, ia lalu pergi untuk menenangkan diri, ia memutuskan kembali pada sore hari untuk memastikan dugaannya.

Namun, sore harinya, Utaro mendapati keadaan rumah sudah normal kembali. Istrinya sedang menggendong anaknya. Utaro pun bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Meskipun berusaha bersikap wajar, sang istri rupanya sudah tahu kalau suaminya pernah melihatnya dalam wujud asli. Kasihan pada suaminya, sang istri pun berterus terang.

“Aku tahu engkau sudah melihat wujud asliku. Aku memang penjelmaan belut yang dulu pernah kau tolong. Aku hanya ingin membalas kebaikan itu dengan berbakti kepadamu. Namun, sekarang aku harus pergi, karena kau telah tahu siapa aku sebenarnya.Tolong jaga anak kita baik-baik. Dia manusia sepertimu,” jelas sang istri sedih.

Sang istri lalu memberinya sebutir bola kecil.

“Kalau bayi kita haus atau lapar, berikan bola ini padanya untuk dihisap,” pesannya kemudian.

Kini,Utaro harus membesarkan anaknya seorang diri. Berbekal bola putih kecil pemberian istrinya, bayi itu tumbuh sehat. Tidak pernah sekali pun bayi itu sakit. Hal itu membuat para tetangga heran. Bagaimana bisa bayi tanpa adanya susu ibu bisa tumbuh sehat dan tidak pernah sakit pula?

Selidik punya selidik, akhirnya rahasia Utaro membesarkan anaknya terbongkar juga. Mukjizat bola kecil putih yang dimilikinya akhirnya tersebar ke pelosok negeri dan sampai ke telinga penguasa negeri. Malang bagi Utaro, karena kemudian si Penguasa merampas bola kecil ajaib miliknya.

Selanjutnya, hari-hari menjadi sangat merepotkan bagi Utaro. Ia tidak bisa lagi tenang bekerja karena sang bayi terus menangis, haus dan kelaparan. Hanya bola kecil putih yang bisa membuat tangis bayinya reda. Utaro bingung dan putus asa. Pergilah ia ke tepi danau.

“Tolong aku, Istriku,” tangisnya penuh putus asa.

Tiba-tiba permukaan air danau tersebut bergelombang, lalu dari dalamnya muncul seekor belut yang sangat besar.

“Ada apa? Mengapa kau terlihat sedih sekali?” Tanya belut jelmaan istrinya itu.

Diceritakanlah tentang bola putih kecil yang dirampas penguasa. Akibatnya,sang anak kini terus menangis kelaparan dan sakit-sakitan.

“Suamiku, bola kecil itu sebenarnya bola mataku sendiri. Bila dihisap bayi kita, bola itu akan menjadi pengganti air susu,”jelas sang belut.”Aku berikan satu bola mata lagi.

Demi bayi kita aku rela meski harus buta. Bawalah bayi kita pergi jauh-jauh dari desa agar bola mataku yang tinggal satu ini tidak lagi diambil orang.”

“Terima kasih, istriku tersayang,” tangis Utaro.

Setelah memberikan satu bola matanya lagi, belut yang kini buta itu lalu kembali ke dasar danau. Sementara sang suami, Utaro baik hati, pulang ke rumah. Seperti pesan istrinya, ia segera berkemas untuk pindah, membesarkan anaknya di tempat lain.

Tidak lama berselang setelah Utaro pergi bersama anaknya, terjadi gempa besar melanda bekas desanya. Gempa yang sangat dahsyat. Seluruh bangunan hancur, termasuk istana megah sang penguasa.

Konon, gempa tersebut disebabkan oleh gerakan belut buta yang menabrak tanah tepat di bawah desa tersebut berada.