Kisah Tikus Tanah Yang Botak

Mole adalah tikus tanah yang baik hati. Tubuhnya tak berambut. Ia hanya memiliki beberapa helai rambut di tubuhnya. Maka dari itu, temantemannya sering memanggilnya botak. Mole sedih sekali sebenarnya. Tetapi mau bagaimana lagi. Temanteman Mole tidak ada yang peduli. Padahal, ucapan mereka itu menyinggung perasaan Mole.

Karena sedih dan tidak mau dicela, Mole jarang sekali keluar dari dalam tanah, la sudah sangat terbiasa hidup di dalam tanah, la hanya keluar pada malam hari untuk sekadar mencari makanan dan kayu bakar. Karena pada malam seperti itu, tidak banyak binatang lain yang dapat melihatnya.

Pada suatu hari, pemburu datang ke hutan. Semua binatang lari tungganglanggang meninggalkan sarang mereka. Namun di manapun mereka sembunyi, selalu dapat ditemukan oleh pemburu. Mole yang kebetulan sedang keluar, begitu kaget melihat banyak binatang yang dibawa oleh para pemburu.

“Hai kalian, kemarilah! Pemburu tidak akan mengejar kalau kalian bersembunyi di tanah,” ucap Mole, setengah berbisik.

Kiki Kelinci, Bee Belalang, serta Yaya Ayam menengok ke arah Mole.

“Tidak apaapa, aku bisa menggali tanah dengan cepat. Pasti akan cukup untuk kalian semua,” ucap Mole, meyakinkan.

Mole memang penggali tanah yang sangat ahli. Sebenarnya banyak binatang yang mengetahui hal itu. Tapi, hal itu tidak membuat para binatang menghargai Mole Tikus.

Dengan adanya sedikit celah untuk aliran udara, ruangan di dalam tanah yang digali oleh Mole Tikus cukup nyaman sebagai tempat persembunyian para hewan. Dengan menggunakan rambutnya yang hanya beberapa helai, Mole bisa merasakan keberadaan para pemburu. Setelah pemburu pergi dari hutan, baru Mole menyuruh binatangbinatang keluar dari dalam tanah.

Baca Juga :  Wasiat Sang Ayah (Yunani)

Kiki Kelinci, Bee Belalang, serta Yaya Ayam dan beberapa binatang lain merasa malu kepada Mole. Selama ini mereka sering meremehkan Mole. Namun, hari ini Mole telah menyelamatkan mereka dari pemburu. Untung saja Mole adalah tikus yang baik hati. Dia tidak pernah dendam kepada siapa pun yang telah menyakitinya.

Pesan Moral : Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Jadi jangan pernah sakiti orang lain. Siapa tahu suatu saat dia akan menjadi penolong kita. Dan kau akan malu jika menyadari bahwa dahulu kau pernah menyakitinya